Kamis, 28 Maret 2019


PENGERTIAN DAN KLASIFIKASI STRATEGI BELAJAR MENGAJAR BAHASA


Dosen Pengampu:
M. Bayu Firmansyah, M.Pd
                                                                         



Disusun oleh :
Devya Erfitri Rahmadhani (16188201034)
PBSI 2016 B
         
                             
STKIP PGRI PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No.27-29 Pasuruan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Tahun Akademik 2018/2019




Strategi adalah ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa-bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai. Yang dianggap berkaitan langsung dengan pengertian strategi dalam pengajaran bahasa ialah bahwa strategi merupakan rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Proses belajar itu terdiri dari tiga tahapan, yaitu:
1.      Informasi, yaitu proses penjelasan, penguraian, atau pengarahan mengenai prinsip-prinsip struktur pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
2.      Transformasi, yaitu proses pengalihan atau perpindahan prinsip-prinsip struktur tadi ke dalam diri anak.
3.      Evaluasi
Strategi pembelajaran meliputi kegiatan atau pemakaian teknik yang dilakukan oleh pengajar mulai perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai ke tahap evaluasi, serta program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu pengajaran. Klasifikasi strategi pembelajaran adalah pengelompokan strategi pembelajaran berdasarkan segi-segi yang sejenis yang terdapat dalam setiap strategi pembelajaran. Pengelompokan ini dapat dilakukan berdasarkan komponen-komponen yang terdapat dalam proses pembelajaran. Komponen-komponen yang terdapat dalam proses pembelajaran yaitu tujuan pengajaran, pengajar, peserta didik, materi pelajaran, metode pengajaran, media pengajaran, faktor administrasi dan finansial, jenis strategi pembelajaran.
Salah satu tugas pengajar dalam kegiatan pembelajaran adalah memilih dan menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakanya. Hal ini berimplikasi bahwa seorang pengajar harus memahami dan menguasai berbagai jenis strategi pembelajaran.
·         Strategi pembelajaran berdasarkan penekanan komponen dalam program pengajaran
1.      Strategi pembelajaran yang berpusat pada pengajar
2.      Strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik
3.      Strategi pembelajaran yang berpusat pada materi pengajaran
·         Strategi pembelajaran berdasarkan pada kegiatan pengolahan pesan atau materi
1.      Strategi pembelajaran ekspositoris
2.      Strategi pembelajaran heuristik atau kurioristik
·         Strategi pembelajaran berdasarkan cara pengolahan pesan atau materi
1.      Strategi pembelajaran deduksi
2.      Strategi pembelajaran induksi.
·         Strategi pembelajaran berdasarkan cara memproses penemuan
1.      Strategi pembelajaran ekspositoris
2.      Strategi pembelajaran penemuan (discovery)



Sabtu, 23 Maret 2019


ASESMEN KETERAMPILAN BERBAHASA DAN BERSASTRA


Dosen Pengampu:
M. Bayu Firmansyah, M.Pd
                                                                         

Disusun oleh :
Devya Erfitri Rahmadhani (16188201034)
PBSI 2016 B
      

STKIP PGRI PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No.27-29 Pasuruan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Tahun Akademik 2018/2019





 
 ASESMEN KETERAMPILAN BERBAHASA
1.      Asesmen Keterampilan Mendengarkan
Mendengarkan merupakan kemampuan yang memungkinkaan seorang pemakai bahasa untuk memahami bahasa secara lisan. Kemampuan mendengarkan terkait dengan kemampuan untuk memahami makna suatu bentuk penggunaan bahasa yang diungkapkan secara lisan. Asesmen mendengarkan lebih banyak diarahkan pda kemampuan untuk memahami makna suatu bentuk penggunaan bahasa yang diungkapkan secara lisan. Tingkatan asesmen kemampuan mendengarkan dapat digolongkan atas:
a.       Asesmen mendengarkan tingkat ingatan
b.      Asesmen mendengarkan tingkat pemahaman
c.       Asesmen mendengarkan tingkat penerapan
d.      Asesmen mendengarkan tingkat analisis
e.       Asesmen mendengarkan tingkat sintesis
f.        Asesmen mendengarkan tingkat evaluasi
Beberapa bentuk asesmen mendengarkan yaitu 1) identifikasi peristiwa atau kejadian; 2) identifikasi tema cerita; 3) identifikasi topik percakapan; 4) menjawab pertanyaan wacana; 5) merumuskan inti wacana; 6) menceritakan kembali.
2.      Asesmen Keterampilan Berbicara
Berbicara merupakan kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Kemampuan berbicara menuntut penguasaan terhadap beberapa aspek dan kaidah penggunaan bahasa. Bentuk-bentuk asesmen berbicara yaitu 1) berbicara singkat berdasarkan gambar; 2) wawancara; 3) menceritakan kembali; 4) pidato/berbicara bebas; 5) percakapan terpimpin; 6) diskusi.
3.      Asesmen Keterampilan Membaca
Membaca merupakan suatu proses yang meliputi proses fisik dan psikologis. Yang menjadi tujuan pokok dari pelajaran membaca dalam pembelajaran bahasa adalah kemampuan memahami isi bacaan. Taksonomi membaca dibagi menjadi:
1)        Membaca literal meliputi pengetahuan dan pemahaman
2)        Membaca interpretatif meliputi terapan.
3)        Membaca kreatif/kritis meliputi analisis, sintesis, dan evaluasi.
Beberapa bentuk pengukuran kemampuan membaca yang dapat digunakan guru yaitu a) tes “Cloze”; b) membaca sekilas; c) membaca teknik; d) menjawab pertanyaan bacaan; e) meringkas isi bacaan; f) kritik terhadap tulisan.
4.      Asesmen Keterampilan Menulis
Menulis merupakan aktivitas pengekspresian ide, gagasan, pikiran, atau perasaan ke dalam lambang-lambang kebahasaan. Dalam menulis dilibatkan berbagai aspek kebahasaan yang meliputi: penggunaan tanda baca dan ejaan, penggunaan diksi, penataan kalimat, pengembangan paragraf, pengolahan gagasan, dan pengembangan model karangan. Bentuk-bentuk asesmen kemampuan menulis: 1) tes unsur-unsur kemampuan menulis; 2) menulis reproduksi; 3) menulis produksi.

ASESMEN ASPEK KESASTRAAN
            Asesmen penguasaan aspek kesastraan dapat disusun secara bertingkat mulai dari tingkat ingatan sampai dengan evaluasi. Penilaian unjuk kerja kesastraan siswa sebagai hasil pembelajaran juga dilakukan lewat keempat kemampuan bahasa tersebut, baik secara aktif-reseptif maupun aktif-produktif.
1.      Asesmen Keterampilan Mendengarkan
Kemampuan mendengarkan adalah kemampuan memahami gagasan pihak lain yang disampaikan lewat suara, baik langsung maupun tidak langsung lewat media tertentu. Untuk keperluan ini, siswa harus benar-benar diberi tugas untuk mendengarkan tuturan bahasa, entah yang berwujud penuturan langsung ataupun penuturan lewat media elektronika tertentu, kemudian diminta untuk menampilkan hasil pemahamannya dengan mempergunakan indikator-indikator tertentu.
2.      Asesmen Keterampilan Berbicara
Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan gagasan kepada pihak lain secara lisan. Untuk keperluan ini, siswa harus benar-benar diminta untuk menampilkan kemampuan apresiasi sastranya secara lisan. Tugas ini dapat dilakukan misalnya dengan cara mengungkapkan atau menceritakan kembali secara lisan isi teks sastra yang diperdengarkan dan atau yang dibaca dan kemudia diikuti tugas berdiskusi.
3.      Asesmen Keterampilan Membaca
Kemampuan membaca adalah kemampuan memahami gagasan pihak lain yang disampaikan lewat tulisan. Untuk keperluan ini, siswa harus benar-benar diminta membaca, memahami, dan kemudian menunjukkan hasil pemahamannya terhadap teks-teks kesastraan dengan mempergunakan indikator-indikator tertentu. Pelaksanaan asesmen kemampuan membaca dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran dan dilakukan secara khusus yang senaja dirancang untuk maksud itu.
4.      Asesmen Keterampilan Menulis
Kemampuan menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan kepada pihak lain secara tertulis. Untuk menulis sebagai tugas tes kesastraan, siswa jyga harus benar-benar diharuskan menulis. Secara umum ada dua macam tugas menulis yang dapat diberikan, yaitu (1) menulis sebagai hasil tanggapan terhadap teks-teks kesastraan, dan (2) menulis kreatif.





Minggu, 17 Maret 2019


JENIS ASESMEN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA


Dosen Pengampu:
M. Bayu Firmansyah, M.Pd
                                                                         

 


Disusun oleh :
Devya Erfitri Rahmadhani (16188201034)
PBSI 2016 B
         
                            

STKIP PGRI PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No.27-29 Pasuruan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Tahun Akademik 2018/2019










JENIS ASESMEN
ASESMEN BERBENTUK TES
Asesmen dalam evaluasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang berupa tes dan nontes. Dalam kegiatan tes diperlukan seperangkat tugas, pertanyaan, atau latihan. Berdasarkan kriteria cara mengerjakan, dibedakan menjadi tes tertulis, tes lisan, dan tes perbuatan. Tes tertulis adalah tes bahasa yang menghendaki jawaban peserta tes dalam bentuk tertulis, baik berupa pilihan maupun isian. Tes lisan adalah tes bahasa yang menghendaki jawaban peserta tes dalam bentuk lisan, yang dilaksanakan melalui komunikasi langsung tatap muka antara peserta didik dengan seorang atau beberapa penguji. Tes perbuatan adalah tes bahasa yang menghendaki jawaban peserta tes dalam bentuk penampilan/perbuatan atau kinerja. Yang termasuk tes perbuatan adalah 1) tes paper dan pencil: tes yang mengukur kemampuan siswa dalam menampilkan karya; 2) tes identifikasi: tes yang mengukur kemampuan siswa dalam mengidentifikasi sesuatu hal; 3) tes simulasi: tes yang mengukur penguasaan keterampilan siswa dengan bantuan peralatan tiruan atau seolah-olah menggunakan suatu alat; 4) tes petik kerja: tes yang mengukur penguasaan atau keterampilan siswa menggunakan alat yang sesungguhnya.
Berdasarkan cara menjawab tes dibedakan tes objektif dan tes nonobjektif. Tes bahasa objektif adalah tes bahasa yang cara menjawab pertanyaan-pertanyaan pada tes semata-mata dinyatakan dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan. Yang termasuk tes objektif adalah 1) benar-salah: tes yang meminta peserta tes untuk menentukan apakah pernyataan itu benar atau salah; 2) menjodohkan: tes yang meminta peserta tes untuk menjodohkan/memasangkan pernyataan-pernyataan yang ada pada kelompok pertama dengan pernyataan yang ada pada kelompok kedua; 3) pilihan ganda: tes yang meminta peserta tes untuk memilih jawaban yang paling tepat dari alternatif jawaban yang telah disediakan. Ragam tes pilihan ganda antara lain: ragam biasa, hubungan antarhal, asosiasi pilihan ganda. Ragam biasa merupakan pernyataan yang belum selesai, peserta tes bertugas untuk menyelesaikan pernyataan dengan memilih pilihan yang telah disediakan. Hubungan antarhal merupakan soal terdiri atas satu pernyataan yang diikuti dengan satu alasan. Asosiasi pilihan ganda sama dengan ragam biasa, tetapi pilihan yang benar bisa lebih dari satu.
Tes bahasa nonobjektif adalah tes bahasa yang cara menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan menyebutkan atau menjelaskan berupa uraian tentang hal-hal yang sudah dipelajari. Yang termasuk tes nonobjektif adalah 1) isian: soal yang meminta peserta tes untuk mengisi peryataan yang belum lengkap; 2) jawaban singkat: soal yang meminta peserta tes untuk menjawab pertanyaan berupa kata, kelompok kata, atau kalimat pendek; 3) soal uraian: soal yang jawabannya menuntut siswa untuk mengingat dan mengorganisasikan gagasan-gagasan atau hal-hal yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis.
Tes berdasarkan taksonomi Bloom menyangkut tiga ranah, yaitu 1) ranah kognitif mencakup kegiatan otak; 2) ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai; 3) ranah psikomotorik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitasi otak, fisik, atau gerakan-gerakan anggota badan.

ASESMEN BERBENTUK NONTES
Asesmen berbentuk nontes terdiri dari:
  • Asesmen unjuk kerja: asesmen yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu.
  • Asesmen portofolio: penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu.
  • Asesmen proyek: kegiatan penilain terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu.
  • Asesmen produk adalah penilaian terhadap penguasaan siswa akan suatu keterampilan dalam membuat suatu hasil kerja dan kualitas hasil kerja siswa.
  • Asesmen diri: suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses, dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya.
  • Asesmen teman sejawat: teknik penilaian yang dilakukan dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan teman-temannya dalam berbagai hal.
  • Asesmen sikap. Penilaian sikap dapat dilakukan dengan teknik observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi.


Jumat, 22 Desember 2017

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BI

DosenPengampu :
M. Bayu Firmansyah, M.Pd


­­

Disusun Oleh:
Devya Erfitri Rahmadhani


STKIP PGRI PASURUAN
Jl. Ki HajarDewantara No 27-29 Pasuruan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
2016/1017




KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya ucapkan kehadirat Tuhan Yang MahaEsakarena atas berkat rahmat dan anugerah-Nya saya dapat menyelesaikan tugas  mata kuliah metode Pembelajaran Bahasa Indonesia.Makalah yang berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran BI” ini saya buat dalam rangka menyelesaikan tugas yang diberikanolehBapak M. Bayu Firmansyah, M.Pdselaku dosen mata kuliahMetode Pembelajaran Bahasa Indonesia.
            Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada dosen mata kuliah ini selaku pembimbing, teman-teman yang telah memberi inspirasi, dan semua orang yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
            Saya sadar makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca agar kedepannya makalah ini dapat lebih baik lagi.
            Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk saya khususnya dan bagi para pembaca umumnya.




Pasuruan, 18 Desember 2017


Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ....................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................... 1
1.3 Tujuan ..................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Alat Pelajaran dan Media Pelajaran........................................................ 2
2.2 Media Pembelajaran.................................................................................................. 5
2.3 Penyediaan Media Pembelajaran.............................................................................. 7
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .............................................................................................................. 12
3.2 Saran ........................................................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 14




BAB  I
PENDAHULUAN
1.1  LatarBelakang

            Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap berbagai dimensi kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, agar pendidikan tidak tertinggal dari perkembangan ilmu pengetahuan maka perlu adanya penyesuaian. Teknologi yang telah tersedia haruslah dimanfaatkan untuk membantu proses pembelajaran dalam pendidikan yang dilakukan di sekolah-sekolah.
            Penggunaan media pembelajaran dalam pendidikan harus disesuaikan dengan media ajar agar penggunaannya dapat proporsional. Media pembelajaran saat ini mengalami pengembangan yang sangat drastis. Berawal dari penggunaan media berbasis manusia hingga berkembang sampai media yang sangat kompleks yang digunakan dalam proses pembelajaran. Semua pengembangan itu, tak lain yaitu untuk memajukan pendidikan yang ada saat ini.

1.2  RumusanMasalah
1)      Apakah pengertian dari pengajaran dan pembelajaran?
2)      Apa saja macam serta fungsi dari media pembelajaran?
3)      Bagaimana menyediakan media pembelajaran?

1.3  Tujuan
1)      Menjelaskan pengertian dari pengajaran dan pembelajaran.
2)      Menjelaskan apa sajamacam serta fungsi dari media pembelajaran.
3)      Menjelaskan bagaimana menyediakan media pembelajaran.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Pengajaran dan Pembelajaran
            Pengajaran (teaching) dan pembelajaran (learning) merupakan dua istilah yang dipakai untuk membedakan fokus aktivitas guru dan pembelajar di kelas. Istilah pengajaran fokus pada aktivitas lebih banyak dilakukan oleh guru. Guru lebih banyak memberi ceramah, menerangkan, memberi contoh, memberi latihan, memberi pekerjaan rumah, menguji dan sejenisnya. Sementara itu, pembelajar menuruti segala perintah guru. Pembelajar tidak diberi hak untuk berinisiatif dan berkreasi. Aktivitas pembelajar selalu bersifat normatif.
            Sementara itu, istilah pembelajaran memberi fokus aktivitas lebih banyak dilakukan oleh pembelajar. Pembelajar diberi kebebasan untuk menyerap informasi dari berbagai sumber (terserah sumber informasinya), mengumpulkan bahan dengan mengadakan wawancara (terserah topik wawancaranya dan tokoh yang diwawancarai), melaporkan hasil wawancara (terserah model pelaporannya), mengadakan pengamatan (terserah objek yang diamati), menganalisis (terserah objek yang dianalisis), mensintesis (terserah pokok pikiran yang disiintetiskan), dan sejenisnya. Pembelajar diberi keleluasaan untuk berinisiatif dan berkreasi berdasarkan bakat, minat, perhatian, dan motivasi mereka.
            Memang pembelajaran merupakan rekayasa. Aktivitas pembelajar diberi posisi lebih besar atau lebih kecil yang menentukan tetap saja guru. Pada saat pembelajaran berlangsung, gurulah yang bertanggung jawab terhadap kelas itu. Hanya saja, jika guru di kelas memberikan porsi lebih besar kepada pembelajar, tidak berarti guru benar-benar mengambil porsi lebih kecil. Posisi guru yang lebih besar diambil di luar kelas sebelum mengajar. Mereka harus mempersiapkan materi pembelajaran, media pembelajaran, teknik dan strategi pembelajaran, dan sebagainya. Dengan demikian, begitu guru berada di kelas, pembelajar dapat diberi porsi lebih besar sehingga guru tinggal menjadi fasilitator, informator, motivator, dinamisator, moderator, administrator, dan sebagainya. Sebaliknya, jika guru mengambil porsi di kelas lebih besar, itu berarti guru sebelumnya tidak melakukan persiapan secara baik, kecuali hanya persiapan materi pembelajaran.
            Guru lupa bahwa inhibisi (kendala psikologis) merupakan faktor penyumbang terbesar kegagalan belajar pembelajar (Brown, 1980). Inhibisi itu berupa rasa malu, rasa takut, rasa cemas, rasa khawatir yang selalu menyelimuti diri pembelajar sebagai akibat adanya dominasi guru. Dalam paradigma baru, inhibisi harus dapat dikurangi sehingga kemandirian pembelajar, rasa percaya diri pembelajar semakin dapat berkembang. Karena itulah, tugas guru sebagai fasilitator, misalnya menyediakan buku-buku sumber belajar; berperan sebagai informator, misalnya menunjukkan dimana dapat memperoleh buku yang berisi ‘teknik menyusun pertanyaan untuk wawancara’, memberi informasi dimana dapat menemukan arti kata tertentu; berperan sebagai motivator, misalnya memberikan pujian terhadap hasil kerja pembelajar yang sudah baik; berperan sebagai dinamisator, misalnya pembelajar kelihatan tidak bergairah dan patah semangat dalam menemui tokoh yang harus diwawancarai kemudian mendorong untuk mencoba lagi sampai ketemu, dan lain-lain.

2.2  Media Pembelajaran
Agar materi pembelajaran dapat diserap oleh pembelajar sebanyak-banyaknya, guru harus melakukan berbagai usaha. Usaha tersebut antara lain a) memberi porsi belajar kepada pembelajar lebih banyak, b) mempersiapkan materi pembelajaran secara rinci sebelumnya, c) mempersiapkan teknik dan strategi tertentu, d) mempersiapkan media dan alat pembelajaran tertentu, e) menciptakan suasana di kelas yang kondusif untuk belajar pembelajar dan sebagainya.
Berkaitan dengan istilah media, perlu dijelaskan perbedaan pengertiannya dengan alat pelajaran. Media pembelajaran adalah alat pelajaran yang telah diisi program pembelajaran. Misalnya, tape recorder yang digunakan untuk memutar kaset pembacaan puisi ketika seorang guru sedang membelajarkan pembelajar membaca puisi dengan intonasi yang benar. Tetapi, jika tape recorder dipakai sebagai alat visualisasi yang ditunjukkan kepada pembelajar “seperti apa tape recorder itu”, benda tersebut sebagai alat pelajaran. Jadi, alat pelajaran adalah “perangkat kerasnya”, sedangkan media adalah “perangkat lunaknya” (program yang disusun untuk membawa pesan agar pesan sampai pada pembelajar).
Ada juga yang berpendapat bahwa media adalah pembawa pesan yang berasal dari sumber pesan kepada penerima pesan (Farida Mukti, 2001: 11). Materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru adalah pesan yang akan disampaikan kepada pembelajar. Jika materi tersebut hanya disampaikan secara lisan melalui ceramah atau secara tertulis dalam bentuk teks, pembelajar sering sulit menangkap isinya. Oleh karena itu, materi tersebut diwadahi menggunakan media yang memungkinkan pembelajar dapat menyerap dengan mudah. Bagimana memilih atau mengembangkan media agar dapat mendukung pengembangan kompetensi dasar pembelajar, yaitu:
1.Dasar pengembangan media pembelajaran
            Seperti sudah diuraikan diatas bahwa media adalah pembawa pesan yang berasal dari sumber pesan kepada penerima pesan (Farida Mukti, 2001: 11). Program yang dimaksud adalah pesan berupa materi pembelajaran yang disusun untuk disampaikan kepada pembelajar dalam berbagai bentuk sajian agar mudah diserap oleh pembelajar.
            Proses transfer of knowlodge diawali dengan penyerapan melalui indera manusia, yaitu mata, telinga, mulut, hidung, peraba, perasa (lidah). Semua itu akan menjadi input yang kemudian diproses dalam otak besar. Bila otak besar merasa cocok dengan input yang diterima, selanjutnya akan dikirim ke otak kecil untuk menjadi pengetahuan yang tidak mudah dilupakan. Sebaliknya, bila otak besar tidak meras cocok, input itu akan cepat dilupakan. Hal ini disebut dengan istilah “pemangkasan kognisi”.
            Informasi yang semula tersimpan di otak besar untuk dapat masuk ke otak kecil dapat melalui dua cara, yaitu: (1) bila informasi baru yang masuk dapat dipertemukan dengan informasi lama yang sudah tersimpan di otak kecil (berarti akan menjadi informasi baru yang lain), informasi baru tersbut akan ikut tersimpan di otak kecil, (2) bila ada informasi baru yang masuk ke dalam pikiran – meskipun dalam memori seseorang belum ada informasi sebelumnya – dan seseorang itu berkenan dengan informasi baru tersebut, informasi baru itu dari otak besar akan dengan mudah dikirim ke otak kecil. Padahal, apabila informasi itu sudah berhasil “masuk” ke otak kecil menjadi ingatan jangka panjang tidak akan pernah dilupakan selama manusia masih hidup. Tugas guru dalam membelajarkan pembelajar adalah berusaha agar pembelajar mampu menyerap informasi baru ke dalam otak kecil sehingga menjadi ingatan jangka panjang.
            Agar media pembelajaran itu dapat efektif, ada banyak syarat yang harus diperhatikan dalam pemilihan media, yaitu: (a) harus sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dikembangkan, (b) harus sesuai dengan karakteristik pembelajar, (c) harus disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia, (d) harus disesuaikan dengan ketersediaan sumber, (e) harus disesuaikan dengan dana, tenaga, dan fasilitas, dan (f) harus dipertimbangkan keluwesan, kepraktiasan, dan daya tahan media.

            2. Aneka macam media pembelajaran
          Ada berbagai sifat media pembelajaran, yaitu: (a) media berupa garis, (b) media berupa gambar, (c) media berupa gerak, (d) media berupa tulisan, (e) media berupa suara. Masing-masing sifat ini dapat digabung satu sama lain, tergantung kemampuan guru dan syarat-syarat lain yang memungkinkan pemanfaatan media tertentu. Dari sifat-sifat itu, yang sekarang banyak dikenal orang adalah sifat media: (a) auditif, (b) visual, (c) audio visual.
            Namun, karena perkembangan teknologi, masing-masing semakin bertambah macamnya. Misalnya, media visual yang semula bersifat statis, kini sudah semakin banyak yang dapat bergerak, seperi pointers, film berbingkai. Media auditif yang semula hanya berkisar pada tape recorder dan radio, kini sudah semakin bertambah luas. Rudi Bretz (dalam Basuki Wibowo, 2001) membuat klasifikasi jenis media lebih rinci sebagai berikut:
(1)   media audio visual gerak
(2)   media audio visual diam
(3)   media audio semigerak
(4)   media visual gerak
(5)   media visual diam
(6)   media audio
(7)   media cetak

Meski klasifikasi siatas lebih rinci, namun dasarnya tetap saja hanya tiga yaitu, visual, auditif, dan audio visual. Masing-masing tetap saja memiliki kelebihan dan kelemahan. Oleh karena itu, guru harus memperhitungkan segala aspek sebelum menentukan media yang akan dikembangkan. Namun, ada satu syarat mutlak yang tidak boleh dilupakan, yaitu bahwa media apapun yang dipilih harus dapatmembantu menyerap informasi ke ingatan jangka panjang pembelajar.

2.3  Penyediaan Media Pembelajaran
1.      Mengidentifikasi media yang sesuai dan mudah dikembangkan
Setelah berbagai aspek yang nerkaitan dengan belajar mengajar diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi jenis media yang akan dikembangkan. Media pembelajaran yang akan dikembangkan tentu harus sesuai dengan karakter media yang dipilih serta kesesuaian media dengan materi pembelajaran, tujuan pembelajaran, ketersediaan media di tempat pembelajar belajar.
Seorang guru tidak boleh memilih media pembelajaran hanya atas dasar satu pertimbangan tertentu sehingga justru akan mempersulit tugas guru maupun proses belajar pembelajar. Prinsip pemilihan media adalah pertimbangan kemudahan dan ketersediaan media yang ada di sekitar pembelajar.
         
2.      Mengembangkan media pembelajaran
Pembelajaran pada dasarnya ingin mengembangkan kompetensi pembelajar. Oleh karena itu, untuk mengembangkan kompetensi perlu penyerapan informasi berupa materi pembelajaran yang diberikan oleh guru. Tanpa penyerapan informasi secara baik, sangat sulit kompetensi dapat berkembang.
Media pembelajaran harus mampu membantu memudahkan penyerapan informasi dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang. Jika setiap informasi penting yang berkaitan dengan pengembangan kognitif, afektif, dan psikomotor dapat diserap dengan baik oleh pembelajar, kompetensi pembelajar akan mudah berkembang dengan baik juga. Hal inilah pentingnya pemanfaatan media pembelajaran.
Bagi guru yang bekerja di daerah perkotaan, media berbasis teknologi informasi (IT) sangat mudah disediakan dan dimanfatkan oleh guru. Oleh karena itu, para guru setidaknya harus mulai membiasakan diri dengan berbagai program yang ada dalam komputer. Ada beberapa cara yang seharusnya mulai dikembangkan oleh para guru untuk mengembangkanmedia pembelajaran. Dengan berbasis IT, guru dapat menyiapkan materi pembelajaran melalui program power pint. Setiap materi disiapkan dalam bentuk ide pokok kemudian dimasukkan ke dalam power point. Program pembelajaran yang dirancang dalam power point dapat ditayangkan melaui LCD di kelas atau dapat diunggah melaui web side agar dapat diakses oleh pembelajar setiap saat. Hal ini akan sangat membantu memudahkan pembelajar menyerap informasi yang disampaikan oleh guru.
Langkah konkret yang mudah untuk mempersiapkan media pembelajaran adalah sebagai berikut.
a.       Persiapkan materi yang akan dimediakan (memilih materi dan menentukan topik-topik inti materi).
b.      Tentukan jenis media yang akan digunakan (visual, auditif, audio visual).
1)      Bila ada visual: buatlah ringkasan materi dalam bentuk bagan, skema, atau deskripsi.
2)      Bila ada auditif: siapkan teks yang akan direkam, siapkan narator yang akan direkam suaranya, lakukan perekaman di studio agar suara dapat jernih.
3)      Bila media audio visual diam: siapkan berbagai gambar yang akan divisualkan, siapkan narator yang akan membacakan teks sebagai isian suara, padukan anata isian suara dengan tampilan gambar.
4)      Bila audio visual gerak: buat skenario materi yang akan dimediakan, siapkan pelaku-pelaku yang akan memrankan tokoh pembawa pesan materi, lakukan pelatihan pemeranan pembawa pesan, pilih lokasi shoting, siapkan kameramen lengkap dengan peralatannya, lakukan shoting, lakukan editing hasil shoting sesuai dengan tujuan pembelajaran.
c.       Gunakan hasil pengembangan media untuk melakukan pembelajaran di kelas.
d.      Evaluasilah efektivitas penerapan media dalam mengembangkan kompetensi pembelajar.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1) Istilah pengajaran fokus pada aktivitas lebih banyak dilakukan oleh guru. Guru lebih banyak memberi ceramah, menerangkan, memberi contoh, memberi latihan, memberi pekerjaan rumah, menguji dan sejenisnya. Sementara itu, istilah pembelajaran memberi fokus aktivitas lebih banyak dilakukan oleh pembelajar. Pembelajar diberi kebebasan untuk menyerap informasi dari berbagai sumber (terserah sumber informasinya), mengumpulkan bahan dengan mengadakan wawancara (terserah topik wawancaranya dan tokoh yang diwawancarai), melaporkan hasil wawancara (terserah model pelaporannya), mengadakan pengamatan (terserah objek yang diamati), menganalisis (terserah objek yang dianalisis), mensintesis (terserah pokok pikiran yang disiintetiskan), dan sejenisnya.
2)Ada berbagai sifat media pembelajaran, yaitu: (a) media berupa garis, (b) media berupa gambar, (c) media berupa gerak, (d) media berupa tulisan, (e) media berupa suara. Masing-masing sifat ini dapat digabung satu sama lain, tergantung kemampuan guru dan syarat-syarat lain yang memungkinkan pemanfaatan media tertentu. Rudi Bretz (dalam Basuki Wibowo, 2001) membuat klasifikasi jenis media lebih rinci sebagai berikut: 1) media audio visual gerak, 2) media audio visual diam, 3) media audio semigerak, 4) media visual gerak, 5) media visual diam, 6) media audio, 7) media cetak.
3) Langkah konkret yang mudah untuk mempersiapkan media pembelajaran adalah: 1) Persiapkan materi yang akan dimediakan (memilih materi dan menentukan topik-topik inti materi), 2) Tentukan jenis media yang akan digunakan (visual, auditif, audio visual), 3) Gunakan hasil pengembangan media untuk melakukan pembelajaran di kelas, 4) Evaluasilah efektivitas penerapan media dalam mengembangkan kompetensi pembelajar.


3.2 Saran
1)      Bagi Pengajar
Para pengajar harustahudanmememahamipengembangan media pembelajaran.Supayaketika saatadasiswa yang bertanya ataupun kurang mengerti tentang menganalisis wacana para pengajarbisamenjawabdengan tepat sesuaidenganpedoman yang berlaku.

2)      Bagi Mahasiswa atau Calon Guru
Bagicalonpengajarataumahasiswasamahalnyadengan para pengajarharusmengetahui dan memahami cara atau apa saja yang diperlukan untuk pengembangan media pembelajaran Bahasa Indonesia. Yang mana dapat dilakukan denganbelajar di kampus ataupun membaca beberapa literatur. Dikarenakan nantinyabisa digunakan sebagai suatu pegangan atau pedoman yang mana digunakan sebagaimendidik peserta didik.

3)      Bagi Peserta Didik
Bagi pesertadidikharusmengetahuipengembangan media pembelajaran BI, agar saat pembelajaran dilaksanakan maka peserta didik mudah untuk memahami.Dan mengetahui cara mengembangkan materi dengan media sehingga tujuan dapat didapat dengan tepat.




DAFTAR PUSTAKA
Pranowo. 2015. TeoriBelajar Bahasa: untuk Guru Bahasa danMahasiswaJurusan Bahasa. Yogyakarta: PustakaPelajar.


           





NIKMATI PROSES, RAYAKAN PERJALANAN

Terlahir sebagai Gen Z dan sedang memasuki era quarter life crisis merupakan sebuah tantangan dalam hidup. Beberapa ciri anak Gen Z adalah ...