Selasa, 23 April 2019


RELIABILITAS ALAT UKUR DALAM ASESMEN BAHASA

Dosen Pengampu:
M. Bayu Firmansyah, M.Pd
                                                                         


Disusun oleh :
Devya Erfitri Rahmadhani (16188201034)
PBSI 2016 B
         
                             
STKIP PGRI PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No.27-29 Pasuruan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Tahun Akademik 2018/2019




RELIABILITAS ALAT UKUR DALAM ASESMEN BAHASA
          Reliabilitas merupakan kriteria ukuran apakah suatu alat ukur dapat mengukur secara konsisten sesuatu yang akan diukur dari waktu ke waktu. Dengan demikian, reliabilitas merujuk pada derajat keajekan (consistency) alat tersebut dalam mengukur apa saja yang diukurnya. Reliabilitas dipengaruhi oleh kesalahan acak, yaitu faktor-faktor yang akan menyebabkan perbedaan skor dalam penggunaan alat pengukur secara berulang-ulang.
            Suatu alat ukur seperti tes dikatakan memiliki reliabilitas atau keterandalan bilamana tes tersebut dipakai mengukur berulang-ulang hasilnya sama. Reliabilitas diartikan dengan keajekan bilamana tes tersebut diujikan berkali-kali hasilnya relatif sama, artinya setelah hasil tes pertama dengan tes berikutnya dikorelasikan terdapat hasil korelasi yang signifikan. Reliabilitas diartikan dengan stabilitas bilamana tes itu diujikan dan hasilnya diadakan analisis reliabilitas dengan menggunakan kriteria internal dalam tes tersebut.
            Ada dua macam reliabilitas, yaitu:
(1) reliabilitas internal adalah uji reliabilitas yang dicari dari harga dalam skor tes itu sendiri, yaitu dengan cara membandingkan bagian skor tes yang satu dengan skor tes yang lain dalam tes yang sama.
(2) reliabilitas eksternal dilakukan dengan cara membandingkan suatu skor tes dengan skor tes lain/skor tes hasil ulangan.
            Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengadakan uji reliabilitas tes, baik internal maupun eksternal adalah sebagai berikut.
Reliabilitas eksternal:
a)      Metode ulang (test-retest realiability), untuk menguji reliabilitas alat ukur dengan jalan mengujikan alat ukur tersebut dua kali atau lebih, kemudian hasilnya dikorelasikan.
b)      Metode sejajar (equivalent-forms reliability), dilakukan dengan jalan menyusun dua buah alat ukur yang memiliki kemiripan/kesamaan/paralel/ekuivalen, setelah kedua tersebut diujikan, kemudian hasilnya dikorelasikan.
Reliabilitas internal:
a)      Metode belah dua (split-half reliability), dilakukan dengan jalan membelah alat ukur misalnya tes menjadi dua bagian dan skor kedua belahan tersebut dikorelasikan dengan rumus tertentu. Metode belah dua terbagi menjadi:
1)      Rumus Spearman-Brown.
Setelah skor reliabilitas setengah tes dikorelasikan dengan rumus Product Moment, selanjutnya dihitung koefisien korelasi satu tes penuh dengan menggunakan rumus Spearman-Brown.
2)      Rumus Flanangan
Rumus ini digunakan untuk mencari reliabilitas tes dengan jalan metode belah dua, tetapi tidak menggunakan jalan korelasi Product Moment seperti rumus Spearman-Brown. Rumus ini menggunakan masing-masing standar deviasi untuk masing-masing belahan dan pada skor total.
3)      Rumus Rulon
Rumus ini menggunakan kuadrat dari deviasi nilai ganjil dan nilai genap dan standar deviasi kuadrat dari skor total.
b)      Uji Homogenitas
1)      Rumus K-R 20
Cara menggunakan rumus ini adalah (1) membuat tabel analisis butir tanpa harus mengelompokkannya dalam nomor ganjil dan genap, (2) menghitung proporsi yang menjawab benar dan proporsi yang menjawab salah pada masing-masing butir dalam tabel analisis butir, (3) mengalikan proporsi yang menjawab benar dan proporsi yang menjawab salah, (4) mencari varians (standar deviasi kuadrat) dari skor total, dan (5) menghitung reliabilitas tes dengan rumus K-R 20.
2)      Rumus K-R 21
Rumus ini dilakukan cukup dengan mengetahui skor total dan varians dari skor total tersebut; jumlah butir soal dengan mean skornya.
3)      Rumus Hoyt
Langkah-langkah: (1) mencari jumlah kuadrat responden, (2) mencari jumlah kuadrat butir, (3) mencari jumlah kuadrat total, (4) mencari jumlah kuadrat sisa, (5) mencari varians sisa dengan menggunakan tabel F, dan (6) memasukkan ke dalam rumus Hoyt
4)      Rumus Alpha
Rumus ini dapat digunakan untuk mengukur reliabilitas tes yang menggunakan skala Likert (skala sikap), tes yang menggunakan bentuk esai, sehingga pengukurannya tidak hanya menggunakan skor benar = 1 dan skor salah = 0 seperti pada tes objektif, tetapi dapat menggunakan skor atau skala 1-9, 1-10, dan sebagainya.




Sabtu, 13 April 2019


PROFIL PEMBELAJAR BAHASA

Dosen Pengampu:
M. Bayu Firmansyah, M.Pd
                                                                         


Disusun oleh :
Devya Erfitri Rahmadhani (16188201034)
PBSI 2016 B      

STKIP PGRI PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No.27-29 Pasuruan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Tahun Akademik 2018/2019




Profil Pembelajar Bahasa
Menurut teori Piaget proses kematangan merupakan kontinuitas berdasar pertumbuhan sebelumnya. Walaupun tahp-tahap tersebut dibatasi dalam suatu periode, semuanya bisa tumpang tindih dan sekali-kali tidak persis atau terikat oleh usia tertentu. Dalam hal ini, telah muncul kontroversi, apakah tahap-tahap perkembangan kognitif itu dapat dipercepat melalui penciptaan pengalaman yang sesuai. Terdapat bukti yang mendukung pendapat bahwa latihan-latihan yang terprogram tidak dapat menggantikan pengalaman yang amat banyak yang terjadi sehubungan dengan usia kematangan.
            Teori Piaget sesuai dengan tugas pengajar dalam memahami bagaimana peserta didik mengalami perkembangna intelek dan menetapkan kegiatan kognitif yang harus ditampilkan pada tahap-tahap fungsi intelektual yang berbeda. Pemahaman ini akan lebih membantu guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik formal, yaitu pendidik yang membina peserta didik dalam kondisi terancang disertai dengan penetapan kualitas hasilnya (evaluasi) antara lain melalui tes. Banyak hal yang menentukan kualitas hasil belajar peserta didik yang secara dikotomi diklasifikasikan atas faktor endogen dan eksogen. Dari dua unsur tersebut lahir salah satu hal yang amat dikenal dalam hal belajar, yaitu kesiapan (readiness), yaitu kemampuan untuk berformasi dalam melaksanakan tugas tertentu sesuai dengan tuntutan situasi yang dihadapi. Sedikitnya, terdapat tiga unsur yang mempengaruhi kesiapan, yaitu:
1.      Kesiapan fisik, antara lain urat-urat saraf dan otot;
2.      Kejiwaan, antara lain bebas dari konflik emosional; dan
3.      Pengalaman, berhubungan dengan keterampilan-keterampilan yang dipelajari sebelumnya.

Minggu, 07 April 2019


PROSES PEMEROLEHAN BAHASA DAN PEMBELAJARAN BAHASA KEDUA

Dosen Pengampu:
M. Bayu Firmansyah, M.Pd
                                                                         


Disusun oleh :
Devya Erfitri Rahmadhani (16188201034)
PBSI 2016 B
         
                            

STKIP PGRI PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No.27-29 Pasuruan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Tahun Akademik 2018/2019


            Pendidikan merupakan bagian penting dari kebijaksanaan kebudayaan suatu bangsa. Pendidikan harus dapat dan perlu memperbaiki kedudkan kebahasaaan dari semua kelompok kebudayaan, yang menembus batas-batas komunikasi dan dapat menyediakan kesempatan kerja, manfaat-manfaat bagi kehidupan nasional, hak-hak warganegara dan sebagainya. Di samping itu, pendidikan harus mengajar masyarakat untuk melihat perbedaan-perbedaan bahasa dan menyadari kelaziman-kelaziman orang lain serta kebudayaan mereka sendiri.
            Dalam belajar bahasa anak-anak lebih baik daripada orang dewasa dalam semua hal, terutama berkenaan dengan pencapaian hasil akhir. Anak-anak kelihatan sangat luwes dan mudah dalam memperoleh bahasa baru, sedangkan orang dewasa mengalami kesulitan dalam memperoleh tingkat kemahiran bahasa kedua. Waktu yang tepat untuk memulai belajar bahasa kedua di sekolah umum, sesuai dengan tuntutan psikologi anak adalah antara umur 4-10 tahun. Untuk belajar bahasa secara alamiah di lingkungan penutur asli dapat terjadi hanya selama periode kritis untuk pemerolehan bahasa, yaitu antara umur dua tahun dan masa pubertas.
            Unsur lain yang penting dalam proses belajar bahasa kedua adalah peranan otot-otot alat bicara. Kelenturan otot-otot ini mempengaruhi pemerolehan bahasa kedua, terutama dalam kegiatan melafalkan bunyi bahasa. Seseorang yang berada di atas umur pubertas umunya sulit memperoleh kemahiran dalam pelafalan seperti penutur asli karena berkurangnya kelenturan otot alat bicara ini. Ini berbeda dengan anak kecil yang secara bersamaan waktunya mempelajari dua bahasa sekaligus. Dari segi kognitif, orang dewasa cenderung lebih sempurna dalam menguasai kaidah eksplisit, yaitu tatabahasa. Namun dari segi afektif, yaitu sikap d an sifat pribadi yang mendukung proses belajar bahasa kedua, orang tua cenderung kurang dibandingkan anak-anak.
            Pemerolehan bahasa anak selalu menjadi awal pembicaraan tentang persoalan pemerolehan bahasa. Perkembangan pemerolehan bahasa anak menjadi contoh yang baik untuk menganalisis lebih dalam tentang bagaimana terjadinya transfer bahasa. Perkembangan pemerolehan bahasa di setiap tempat dan wilayah yang berbeda mengakibatkan kajian ini bergesar pada substansi perkembangan bahasa dan ragam bahasa yang digunakan.
            Pada tahap awal perkembangan kajian pemerolehan bahasa kedua, isu yang banyak dikaji adalah faktor-faktor internal pembelajar. Faktor-faktor itu meliputi antara lain umur, bakat, sikap, motivasi, kepribadian, gaya kognitif, dan strategi belajar. Sikap mempengaruhi motivasi, dan selanjutnya motivasi mempengaruhi pemerolehan bahasa kedua. Sejumlah sifat-sifat pribadi diduga banyak berkaitan dengan kelancaran terhadap proses pemerolehan bahasa kedua. Sifat-sifat itu antara lain harga diri, ekstroversi, kecemasan, sensitivitas, empati, inhibisi, dan toleransi terhadap kesamaran. Gaya kognitif adalah cara-cara yang disukai oleh seseorang dalam memproses informasi atau melaksanakan suatu tugas. Strategi belajar adalah faktor internal pembelajar yang belakangan banyak menarik minat peneliti.




PENYUSUNAN ASESMEN BAHASA NONTES

Dosen Pengampu:
M. Bayu Firmansyah, M.Pd
                                                                         


Disusun oleh :
Devya Erfitri Rahmadhani (16188201034)
PBSI 2016 B
         
                            

STKIP PGRI PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No.27-29 Pasuruan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Tahun Akademik 2018/2019



PENYUSUNAN ASESMEN KINERJA (PERFORMANCE ASSESSMENT)
            Asesmen kinerja/unjuk kerja (performance assessment) adalah suatu penilaian yang meminta siswa untuk mendemonstrasikan dan kriteria yang diinginkan. Asesmen kinerja digunakan untuk kompetensi yang berhubungan dengan praktik. Aesemen kinerja dalam bidang bahasa umunya berupa penyajian lisan seperti keterampilan bercerita, berpidato, baca puisi; juga berupa kegiatan pemecahan masalah dalam kelompok, partisipasi dalam diskusi, permainan, bermain peran, drama, demonstrasi, wawancara, debat, dan sebagainya.
            Langkah-langkah untuk melakukan penilaian kerja adalah: (1) identifikasi semua langkah penting, (2) tuliskan kemampuan-kemampuan khusus, (3) tuliskan kemampuan yang akan dinilai yang dapat teramati dalam suatu format penilaian, (4) urutkan kemampuan yang akan dinilai, (5) sediakan instrumen dan rubrik penilaian.

PENYUSUNAN ASESMEN PORTOFOLIO (PORTOFOLIO ASSESSMENT)
            Portofolio merupakan kumpulan hasiln kerja siswa yang menunjukkan atau memperlihatkan hasil pemikiran mereka, minat, hasil usaha, tujuan dan cita-cita mereka dalam berbagai aspek. Diantara bahan yang dapat digunakan dalam penilaian portofolio di sekolah antara lain sebagai berikut: a) penghargaan tertulis yang relevan dengan mata pelajaran, b) hasil kerja biasa yang relevan dengan mata pelajaran, c) hasil pelaksanaan tugas-tugas sehari-hari oleh siswa, d) catatan sebagai peserta dalam suatu kerja kelompok, e) contoh hasil pekerjaan, f) catatan atau laporan dari pihak lain yang relevan, g) daftar kehadiran siswa, h) hasil ujian atau tes, dan i) catatan-catatan negatif (misalnya peringatan) tentang siswa.

PENYUSUNAN ASESMEN PROYEK (PROJECT ASSESSMENT)
            Yang dimaksud dengan istilah proyek di sini adalah tugas yang harus diselesaikan siswa dalam periode waktu tertentu. Tuags tersebut berupa suatu investigasi sejak dari pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data. Sebelum kegiatan penilain proyek dilaksanakan, terlebih dahulu guru perlu melakukan perencanaan penilaian. dalam tahap perencanaan dan pembuatan spesifikasi proses suatu proyek, guru hendakanya melakukan hal-hal seperti berikut: a) pemilihan topik, b) pembuatan diagram terhadap topik yang akan diinvestigasi, c) pembuatan rincian terhadap tahapan proses, d) monitoring terhadap kerja proyek, e) membuat pertimbangan dan catatan, f) penilaian yang dilakukan oleh siswa sendiri, g) penilaian antarkelompok prestasi, j) membuat perkiraan yang seimbang, k) mengombinasikan bukti proyek dengan bukti lain, i) memonitoring perkembangan keterampilan pada lintas bidang pembelajaran. Bagian penting dari suatu proyek adalah berbagai penyelesaian dan hasil pada akhir suatu kegiatan. Penilain proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan sampai hasil akhir proyek.

PENYUSUNAN ASESMEN DIRI (SELF ASSESSMENT)
            Asesmen diri adalah suatu jenis asesmen yang meminta peserta didik untuk menilai dirinya sendiri. Asesmen diri meliputi tiga proses di mana regulasi diri siswa mengamati dan menafsirkan perilaku dirinya. Pertama, siswa menghasilkan observasi sendiri yang berfokus pada aspek kinerja khusus yang relevan dengan standar kesuksesan. Kedua, siswa membuat pertimbangan sendiri dengan menentukan bagaimana kompetensi dapat dikuasai. Ketiga, siswa melakukan reaksi diri, menafsirkan tingkat pencapaian tujuan, dan menghayati kepuasaan hasil reaksi dirinya.

PENYUSUNAN ASESMEN SEJAWAT (PEER ASSESSMENT)   
            Asesmen sejawat adalah salah bentuk asesmen, dimana siswa dapat saling memberikan penilaian. kedudukan teman sejawat sebagai penilai setara dengan diri sendiri dalam asesmen diri. Asesmen sejawat dapat dilakukan secara berpasangan dan dapat pula dilakukan secara acak. Hasil penilaian sejawat dapat dimanfaatkan oleh guru sebagai salah satu informasi penentuan keberhasilan siswa. Selain itu, hasil penilaian sejawat dapat pula dimanfaatkan sebagai bahan untuk menyempurnakan suatu karya siswa. Dengan demikian, penilaian sejawat bertujuan untuk mengukur kompetensi yang dimiliki teman sejawat dan dapat pula untuk memberikan masukan kepada teman sejawat.

PENYUSUNAN ASESMEN PRODUK (PRODUCT ASSESSMENT)
            Product assessment atau penilain hasil kerja siswa adalah penilaian terhadap penguasaan siswa akan suatu keterampilan dalam membuat suatu hasil kerja dan kualitas hasil kerja siswa. Dalam penilaian hasil kerja siswa terdapat dua konsep penilaian, yaitu penilaian siswa tentang pemilihan pekerjaan dan cara penggunaan alat dan prosedur kerja. Pengembangan produk meliputi 3 tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu: (1) tahap persiapan; (2) tahap pembuatan produk (proses); (3) tahap penilaian produk (appraisal).

PENYUSUNAN ASESMEN SIKAP
            Sikap merupakan ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidu yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk, sehingga terjadinya perilaku atau tindakan yang diinginkan. Berdasarkan kajian nilai-nilai agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum. Etika akademik, dan prinsip-prinsip HAM, telah teridentifikasi 80 butir nilai karakter yang dikelompokkan menjadi lima, yaitu nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengann (1) Tuhan Yang Maha Esa, (2) diri sendiri, (3) sesama manusia, dan (4) lingkungan, serta (5) kebangsaan.





Selasa, 02 April 2019


PENDEKATAN DAN METODOLOGI PEMBELAJARAN BAHASA

Dosen Pengampu:
M. Bayu Firmansyah, M.Pd
                                                                         

Disusun oleh:
Devya Erfitri Rahmadhani (16188201034)
PBSI 2016 B
         
                             
STKIP PGRI PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No.27-29 Pasuruan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Tahun Akademik 2018/2019



PENDEKATAN
            Beberapa pendekatan dalam pembelajaran bahasa pada prinsipnya dapat digunakan untuk pengajaran bahasa Indonesia atau bahasa lainnya, yaitu sebagai berikut: pendekatan tradisional, pendekatan fungsional, pendekatan integral, pendekatan sosiolinguistik, pendekatan psikologi, pendekatan psikolinguistik, dan pendekatan pengelolaan kelas. Empat buah pendekatan mutakhir yang perlu diketahui dan dikuasai oleh para pengajar, yaitu sebagai berikut: pembelajaran bahasa masyarakat, pendekatan respons fisik total, pendekatan alamiah, dan pendekatan diam.
METODE
            Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan (KBBI, 1995). Berikut beberapa metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa, yaitu metode terjemahan tatabahasa, metode membaca, metode audio-lingual, metode reseptif dan produktif, metode langsung, metode komunikatif, metode integratif, metode tematik, metode kuantum, metode konstruktivistik, metode partisipatori, metode kontekstual, metode pembelajaran bahasa komunitas, metode respons fisik total, metode cara diam, dan metode sugestopedia.
TEKNIK
            Teknik adalah cara sistematis mengerjakan sesuatu (KBBI, 1995). Teknik merupakan suatu kiat, siasat, atau penemuan yang digunakan unyuk menyelesaikan serta menyempurnakan suatu tujuan langsung. Teknik harus konsisten dengan metode. Oleh karena itu, teknik harus selaras dan serasi dengan pendekatan.
TEKNIK PENYAJIAN PELAJARAN
            Roestiyah (2001) mengemukakan:
“Teknik penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh pengajar atau instruktur. Pengertian lain ialah sebagai teknik penyajian yang dikuasai pengajar untuk mnegajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik di dalam kelas agar pelajarn tersebut dapat ditangkap, dipahami, dan digunakan oleh peserta didik dengan baik.”
Macam-macam teknik penyajian itu adalah teknik penyajian diskusi, kerja kelompok, penemuan, simulasi, unit teaching, sumbang saran, inquiry, eksperimen, demonstrasi, karya wisata, kerja lapangan, cara kasus, cara sistem regu, latihan tubian (drill), dan ceramah.


PENYUSUNAN TES BAHASA

Dosen Pengampu:
M. Bayu Firmansyah, M.Pd
                                                                         




Disusun oleh :
Devya Erfitri Rahmadhani (16188201034)
PBSI 2016 B
         
                            

STKIP PGRI PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No.27-29 Pasuruan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Tahun Akademik 2018/2019



MENENTUKAN TUJUAN TES
Tujuan tes sangat penting karena setiap tujuan memiliki penekanan yang berbeda-beda. Misalnya untuk tujuan tes prestasi belajar, diagnostik, atau seleksi. Contoh untuk tujuan prestasi belajar, lingkup materi/kompetensi yang dinyatakan/diukir disesuaikan seperti kuis/menanyakan materi yang lalu, pertanyaan lisan, kenaikan kelas, laporan kerja praktik/laporan praktikum, ujian praktik. Ditinjuau dari tujuannya, ada empat macam tes yang digunakan di lembaga pendidikan, yaitu (1) tes penempatan, (2) tes dignostik, (3) tes formatif, dan (4) tes sumatif. Sistem penilaian berbasis kompetensi pada umumnya menggunakan tes dignostik, foematif, dan sumatif.
MENYUSUS KISI-KISI TES
            Kisi-kisi merupakan matriks yang berisi spesifikasi soal-soal yang akan dibuat. Kisi-kisi ini merupakan acuan bagi penulis soal sehingga siapa pun yang menulis soal akan menghasilkan soal yang isi dan tingkat kesulitannya relatif sama. Kisi-kisi selain berfungsi sebagai pedoman penulisan soal juga digunakan sebagai pedoman perakitan soal. Syarat kisi-kisi antara lain (1) harus mewakili kurikulum, (2) ditulis dengan singkat dan jelas, dan (3) soal dapat disusun sesuai dengan bentuk soal.
MENULIS SOAL TES
            Sebelum soal-soal tes disusun, terlebih dahulu ditentukan jumlah butir tes yang akan dibuat. Dasar penentuan jumlah butir tes adalah jenis dan bentuk tes yang digunakan. Untuk jenis tes objektif diperlukan jumlah butir tes yang jauh lebih besar daripada tes non-objektif. Setelah ditetapkan jumlah butir tes yang harus dipersiapkan sesuai dengan jenis dan bentuk tes yang akan digunakan, selanjutnya dilakukan penulisan butir-butir tes. Untuk mempermudah pengaturan, soal terlebih dahulu dituliskan di kartu-kartu soal.
MENELAAH SOAL TES
            Butir-butir tes dari suatu tes yang telah dipersiapkan harus ditelaah dulu sebelum digunakan. Cara menelaah butir-butir tersebut adalah: (1) telaah secara kualitatif, yakni telaah oleh teman sejawat dalam rumpun keahlian yang sama, dilakukan sebelum tes diuji coba atau digunakan, (2) telaah secara kuantitatif, yakni analisis berdasarkan hasil uji coba atau hasil penggunaan tes, dilakukan setelah tes diuji coba atau digunakan. Hasil telaah ini merupakan masukan untuk perbaikan tes. Selanjutnya hasil tes dianalisis untuk mengetahui kompetensi dasar yang telah dicapai dan yang belum dicapai.
MELAKUKAN UJI COBA TES
            Sebelum digunakan pada objek yang sesungguhnya, tes yang telah selesai disusun butir-butirnya tersebut hendaknya diuji coba terlebih dahulu. Tujuan uji coba adalah untuk mnegukur validitas dan reliabilitas. Uji validitas dimaksudkan untuk mencari kesesuaian tes dengan kemampuan yang akan diukur. Uji reliabilitas dimaksudkan unuk melihat kemampuan tes tersebut melakukan pengukuran dengan tingkat keajekan tertentu.
MENGANALISIS BUTIR SOAL TES
            Setelah sebuah tes diujicobakan, selanjutnya dianalisis tiap butirnya. Untuk tes buatan guru yang tidak melalui langkah uji coba, maka setelah tes digunakan maka guru dapat melakukan analisis butir soal. Apabila hal ini sering dilakukan kemampuan guru dalam membuat tes yang baik akan tercapai.
MEMPERBAIKI TES
            Setelah seluruh butir tes/soal ditelaah dari ranah materi, konstruksi, dan bahasa; dan telah dianalisis derajat kesukaran dan daya bedanya, kemudia dikelompokkan menjadi tiga, yaitu (1) butir-butir tes yang dianggap baik atau diterima, (2) butir-butir tes yang tidak baik atau ditolak, dan (3) butir-butir tes yang kurang baik, diperbaiki.
MERAKIT TES
            Butir-butir tes yang baik (memenuhi persyaratan yang ditetapkan) kemudian ditata atau dirakit dengan cara tertentu. Dalam merakit tes, butir-butir soal dapat dikelompokkan menurut urutan kompetensi dasar, taraf kesukaran, dan format (komposisi bentuk soal).
MELAKSANAKAN TES
            Setelah spal dirakit, selanjutnya dilaksanakanlah tes yang sesungguhnya. Untuk tes yang dilaksanakan di kelas, pelaksanaannya dapat dikatakan sederhana karena segala sesuatunya cukup mudah diatur.
MENAFSIRKAN HASIL TES
            Setelah tes dilaksanakan, langkah berikutnya adalah melakukan pemerikasaan terhadap hasil tes, yang sebelumnya lembar hasil pelaksanaan evaluasi harus diperiksa kelengkapannya. Hasil pemeriksaan terhadap tes tersebut selanjutnya diwujudkan dalam bentuk skor (penilaian skor), yaitu dengan pemberian tanda-tanda tertentu yang diberi makna seperti: 20, 60. 75, 80, 90, dan sebagainya.
           


NIKMATI PROSES, RAYAKAN PERJALANAN

Terlahir sebagai Gen Z dan sedang memasuki era quarter life crisis merupakan sebuah tantangan dalam hidup. Beberapa ciri anak Gen Z adalah ...